Kamu inget nggak sih jaman SD dulu, pas bel istirahat bunyi, langsung serbu kantin buat beli gorengan? Pisang goreng anget sama cocolan cabe rawit, atau cilok kenyal pake saus kacang. Simpel, murah, dan bikin bahagia. Tapi coba liat sekarang. Tiba-tiba gorengan jadul itu nongol di kafe aesthetic, dikemas kotak premium, bahkan harganya bisa tembus puluhan ribu! Ini bukan cuma soal nostalgia. Ada strategi besar di balik “naik kelas”-nya makanan pinggiran ini. Dan yang paling seru: kita sebagai generasi 18-30 tahunan ini malah jadi aktor utamanya.
Gue penasaran banget, kenapa sih sekarang kita rela antri panjang buat jajanan yang dulu cuma dianggap “makanan pasar” biasa? Apa karena emang rasanya berubah? Atau karena kita yang berubah? Yuk, kita bedah satu per satu.
Dari Pasar ke Panggung Dunia: Batagor dan Sahabatnya yang Mendunia
Kita mulai dari yang paling spektakuler. Awal 2026, jagad kuliner dihebohkan sama pengumuman dari TasteAtlas, semacam ensiklopedia makanan dunia gitu. Mereka merilis daftar 100 gorengan terenak se-Asia. Dan Indonesia? Mendominasi!
Yang bikin kaget, Batagor—jajanan khas Bandung yang lahir dari kreativitas pedagang keliling bernama H Isan sekitar tahun 1968—berhasil meraih peringkat nomor 1 di Asia Tenggara . Skornya 4.4 bintang! Bayangin, makanan yang dulu dijajakan di gerobak roda tiga, sekarang diakui secara internasional. “Batagor menjadi salah satu makanan yang masuk daftar gorengan terbaik se Asia,” tulis detikFood . Di belakangnya, ada ayam goreng di posisi 9, pempek di posisi 11, bahkan kategori ‘gorengan’ itu sendiri—yang isinya pisang, ubi, cireng, gehu—masuk posisi 14 .
Ini bukan cuma kebetulan. Dari 20 besar gorengan se-Asia Tenggara, setengahnya adalah makanan Indonesia . Ini menunjukkan kalau cita rasa gorengan kita itu legit, diakui dunia. Tapi, pertanyaannya: kenapa baru sekarang kita “bangga” sama gorengan?
Jawabannya ada di strategi yang kita bahas berikut ini. Gorengan jadul naik kelas bukan karena rasanya berubah, tapi karena cara kita memandangnya yang berubah.
Rahasia Naik Kelas: Tiga Jurus Jitu yang Bikin Jajanan Jadul Jadi Primadona 2026
Nah, ini intinya. Dari ngelihatin fenomena batagor, pisang goreng, cilok, sampe dodongkal, gue nangkep ada tiga strategi utama yang bikin mereka “naik kelas”.
1. Inovasi Rasa: “Kangen Tapi Beda”
Ini kunci utamanya. Rasa nostalgia dipertahankan, tapi di-“upgrade” biar cocok sama lidah kekinian. Contoh paling gampang: Kue Cubit. Dulu cuma ada rasa cokelat atau original. Sekarang? Ada red velvet, taro, green tea, salted caramel. Topping-nya bukan cuma meses, tapi boba, marshmallow, sampe es krim!
Atau Dodongkal, jajanan tradisional Sunda. Antropolog Imam Setyobudi bilang, agar nggak dianggap makanan kuno, dodongkal harus beradaptasi. Sekarang mulai bermunculan dodongkal dengan topping modern kayak keju parut, cokelat meses, atau saus creamy. Bahkan ada yang bereksperimen dengan bubuk matcha atau red velvet ke dalam adonannya . Ada yang dibentuk bintang dan diberi nama “Dongkal OL (Obat Lapar)”, atau bentuk hati dengan topping susu yang dijuluki “Dongkal Milky Love” . Kreatif banget kan?
Bahkan di Gresik, ada camilan unik pisang dan nangka yang disebut “naik kelas” karena bisa request topping sesuai selera. Harganya mulai Rp10 ribuan aja, tapi rasanya beda dari gorengan biasa . Liat? Modal kreativitas, jajanan jadul bisa punya value baru.
2. Estetika dan Kemasan: Bikin “Instagrammable” dan “Satisfying”
Ini dia yang paling relevan buat kita anak muda. Makanan sekarang nggak cuma harus enak, tapi juga harus instagrammable. Estetika visual itu penting banget buat viral di media sosial . Cuma modal video bikin Es Goyang dengan gaya yang unik, bisa langsung ditonton jutaan orang di medsos .
Dodongkal juga memanfaatkan ini. Imam bilang, pedagang sekarang mengunggah video proses pemotongan dodongkal yang “memuaskan” (satisfying) ke TikTok atau Instagram Reels. Uap panas yang mengepul dan lelehan gula aren yang terlihat saat dipotong sangat efektif menarik perhatian audiens muda .
Begitu juga dengan Mie Lidi. UMKM “LidiLicious” di Bekasi menjual mie lidi dalam kemasan ziplock berwarna-warni dengan desain kekinian dan label rasa yang beragam. Dari jajanan SD yang dibungkus plastik polos, sekarang jadi camilan kekinian yang siap saji . Bahkan jajanan pasar kayak klepon, serabi, atau lemper kini disajikan di kafe dengan piring keramik ala Eropa, ditemani kopi artisan .
Ini bukan cuma gimmick. Ini strategi yang berhasil. “Plating yang rapi dan suasana kafe yang cozy membuat pengalaman makan jajanan pasar terasa lebih spesial,” kata salah satu pengunjung kafe Jajan Simanis di Senopati .
3. Rebranding: Bukan Lagi “Jajanan Pinggiran”, Tapi “Gaya Hidup”
Langkah terakhir, dan ini yang paling penting: mengubah positioning. Jajanan jadul nggak lagi dijual sebagai “makanan pengganjal lapar”, tapi sebagai bagian dari gaya hidup.
Dodongkal misalnya, dipasarkan bukan sebagai makanan berat, melainkan sebagai bagian dari wisata kuliner. Proses pembuatannya yang unik pakai alat tradisional (aseupan dan seeng) ditonjolkan sebagai atraksi budaya yang keren buat difoto. Penjual juga mempromosikannya sebagai pendamping minum kopi susu gula aren—minuman favorit generasi sekarang . Kombinasi manis dodongkal dan pahit kopi menciptakan rasa yang modern. Keren kan?
Bahkan, ada kafe yang bekerja sama dengan pengrajin lokal untuk bahan baku kayak gula aren atau tepung beras, sekaligus menjaga resep turun-temurun tetap relevan . Ini strategi “naik kelas” yang berdampak luas, nggak cuma buat penjual, tapi juga buat pelestarian budaya dan pemberdayaan UMKM .
Studi Kasus Nyata: Tiga Contoh Sukses yang Bisa Kamu Tiru (atau Nikmati)
Biar makin jelas, gue kasih tiga contoh nyata yang lagi hits banget.
Studi Kasus 1: Batagor, dari Gerobak ke Peringkat Dunia
Ini yang paling sukses. Batagor, yang awalnya cuma iseng pedagang bakso tahu di Bandung, sekarang diakui TasteAtlas sebagai gorengan nomor 1 se-Asia Tenggara . Kuncinya apa? Selain rasanya yang emang juara (campuran daging, bumbu khas, dan kulit pangsit digoreng renyah), batagor punya cerita. TasteAtlas bahkan kasih rekomendasi gerai batagor terbaik kayak Batagor Kingsley atau Batagor Darto . Ini mengangkat batagor dari sekadar jajanan pinggiran menjadi ikon kuliner yang dicari wisatawan dan foodies.
Studi Kasus 2: Dodongkal, “Camilan Jadul yang Digandrungi Anak Muda”
Kompas.com baru-baru ini nge-highlight dodongkal sebagai camilan jadul yang kembali naik daun . Kunci suksesnya? Adaptasi dan digital marketing. Dengan inovasi topping, kemasan modern, video satisfying di TikTok, dan promosi sebagai teman ngopi, dodongkal berhasil menarik perhatian generasi muda yang tadinya nggak kenal sama jajanan ini. Ini bukti nyata kalau media sosial adalah mesin utamanya.
Studi Kasus 3: Mie Lidi, Produk UMKM yang Berhasil Ekspansi
Usaha “LidiLicious” di Bekasi jadi contoh UMKM yang sukses memanfaatkan tren nostalgia. Pemiliknya, Dinda Rahma, mengaku awalnya cuma kangen jajanan SD. Tapi ternyata banyak orang lain yang juga rindu. Dengan kemasan kekinian dan varian rasa inovatif (level pedas 1-5, rasa jagung bakar, pizza), usaha ini bisa menjual ratusan bungkus per hari, apalagi kalau ikut bazar kuliner . Ini menunjukkan bahwa bisnis makanan jadul punya pasar yang besar dan potensi skalabilitas kalau dikelola dengan strategi yang tepat.
3 Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan (Biar Kamu Nggak Ikutan Gagal)
Melihat tren ini, banyak yang kepincut buat ikutan jualan gorengan jadul. Tapi, ada beberapa jebakan yang sering bikin usaha cuma jadi tren sesaat. Catet baik-baik:
- Cuma Ikut-ikutan, Tanpa Punya Ciri Khas: Viral boleh cepat, tapi bisnis butuh napas panjang. Jangan cuma bikin pisang goreng biasa tanpa pembeda. Cari USP (Unique Selling Proposition) kamu. Apakah topping-nya beda? Kemasannya unik? Atau lokasinya strategis? Kalau semua sama, mana yang bikin orang inget sama kamu?
- Mengorbankan Rasa Demi Estetika: Ini jebakan klasik. Kemasan bagus, visual cantik, tapi rasanya biasa aja atau malah menurun. Ingat, konsistensi rasa itu kunci utama . Viral memang bikin ramai, tapi kalau rasa nggak oke, orang cuma datang sekali dan nggak balik lagi. “Estetika tanpa rasa, visual tanpa cerita—banyak dari makanan kekinian terasa kurang ‘jiwa'” .
- Nggak Siap Sama Lonjakan Permintaan (Skalabilitas): Ini sering terjadi pada penjual yang tiba-tiba viral. Mereka kewalahan memenuhi pesanan, kualitas jadi menurun, dan pengalaman pelanggan jadi buruk. Perhatikan aspek skalabilitas produk kamu. Pastikan bahan baku stabil dan proses produksi bisa ditingkatkan tanpa mengorbankan kualitas .
Tips Praktis: Gimana Cara Nikmatin Tren Tanpa Jadi Korban “FOMO”?
Oke, buat kamu yang lebih suka jadi konsumen yang cerdas (atau mungkin mau mulai bisnis kecil-kecilan), nih tipsnya:
- Jadi Konsumen Kritis, Bukan Cuma “FOMO”: Jangan cuma beli karena rame di TikTok. Cari tahu dulu, jajanan itu asalnya dari mana, cerita di baliknya apa. Dengan tahu sejarahnya, kamu nggak cuma makan, tapi juga ikut melestarikan budaya . Seperti kata antropolog, ini cara “menjaga identitas kuliner Nusantara agar tetap hidup dan berkembang” .
- Manfaatin Media Sosial untuk Cari Rekomendasi Autentik: Daripada ikutin iklan, cari konten kreator yang memang fokus nge-review makanan tradisional atau jajanan pasar. Banyak dari mereka yang kasih info jujur soal rasa, harga, dan lokasi. Kamu bisa dapet rekomendasi yang lebih personal dan terpercaya.
- Coba Bikin Sendiri di Rumah! Ini seru banget. Banyak resep jajanan jadul yang simpel dan bahannya mudah didapat. Dengan bikin sendiri, kamu bisa eksperimen dengan rasa dan topping favoritmu. Siapa tahu, dari situ kamu malah nemuin ide bisnis! Seperti yang disebut di artikel, “banyak dari mereka bahkan mencoba membuat sendiri jajanan pasar di rumah, sebagai bentuk eksplorasi kuliner dan upaya melestarikan resep tradisional” .
Kesimpulan: Bukan Sekadar Tren, Ini Gerakan Nostalgia dan Identitas
Jadi, balik lagi ke pertanyaan awal: Kenapa gorengan jadul naik kelas di 2026?
Jawabannya, ini bukan sekadar tren makanan. Ini adalah gerakan nostalgia dan pencarian identitas. Di tengah derasnya budaya instan dan makanan global yang serba seragam, kita—generasi milenial dan Gen Z—merindukan sesuatu yang otentik, membumi, dan punya cerita . Makanan jadul itu adalah jembatan ke masa lalu, pengingat akan rumah, masa kecil, dan kehangatan keluarga .
Dengan “menaikkan kelas” jajanan ini—memberinya rasa baru, tampilan kekinian, dan cerita yang menarik—kita nggak cuma menghidupkan kembali kenangan, tapi juga memberi nilai baru pada warisan budaya kita sendiri. Kita nggak cuma beli pisang goreng, kita beli pengalaman, kita beli nostalgia, dan kita ikut menjaga agar rasa itu nggak hilang ditelan zaman .
Dan yang paling penting, tren ini menunjukkan kalau kita sebagai generasi muda punya kuasa. Dengan pilihan kita, selera kita, dan konten yang kita bagikan di media sosial, kita menentukan makanan apa yang “naik kelas” dan layak untuk terus dikenang. Jadi, lain kali kamu ngiler liat cilok kriwil di kafe atau pesan batagor di resto, ingat: kamu nggak cuma makan. Kamu sedang menjadi bagian dari cerita besar kuliner Indonesia yang terus beradaptasi dan bertahan. Menarik kan?
